Slider

Mengabdi / berita

Menginspirasi / Acara

Agenda Terdekat

Diskusi / Seminar

Pelatihan

Bedah Buku / Film Dll

Dokumentasi / Foto - Foto

Puasa, Amalan Berdimensi Ganda

Puasa ramadan merupakan perintah Allah SWT yang dibebankan kepada manusia yang sudah memenuhi syarat, salah satunya yaitu sudah baligh. Baligh itu ada tendensinya, jika dilihat dari segi umur yaitu untuk laki-laki 15 tahun sedangkan untuk perempuan sembilan tahun.

Adapun parameter kedua setelah umur yaitu apabila sudah mengalami "mimpi basah" untuk laki-laki dan menstruasi untuk perempuan. Secara ilmu fiqih, puasa diartikan menahan diri dari segala yang membatalkan mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Menahan diri dari makanan, tidak bersetubuh di siang hari dan hal-hal yang mampu membatalkan puasanya. Jika melihat kepada ilmu fiqih tentu siapapun sudah bisa dipastikan mampu melaksanakannya, dan inilah yang kebanyakan kita lakukan di bulan ramadhan sebelum-sebelumnya.

Maksudnya adalah puasa yang kita jalani hanyalah sebuah ritual yang menggunakan kacamata ilmu fiqih. Lalu bagaimana ketika kita berpuasa tetapi tidak pernah sholat lima waktu, selalu berkata kotor, dan keburukan-keburukan lainnya? Apakah puasa kita memiliki nilai? Apakah tidak berpengaruh dengan puasa kita?

Di sini lah kenapa kita tidak harus berpuasa hanya menggunakan kacamata ilmu fiqih saja. Dalam ilmu fiqih, ketika kita berpuasa tetapi tidak salat dan berkata kotor, selama tidak makan, minum dan yang dapat membatalkan lainnya, tentu puasanya tetap sah. Tetapi dalam ilmu tasauf puasa yang kita lakukan hanyalah perbuatan sia-sia. Allah SWT tidak butuh dengan puasa yang hanya menahan lapar dan dahaga semata.

Dimensi Ganda
Jika ditinjau dari aspek lain, secara vertikal puasa itu merupakan keshalihan individual sedangkan secara horisontal mengarah kepada keshalehan sosial. Betapa tidak, ketika kita berpuasa secara tidak langsung rasa kepekaan sosial itu telah tumbuh. Sehingga para fuqaha menyebut puasa itu dengan amalan yang berdimensi ganda; yaitu vertikal dan horisontal.

Tak hanya puasa saja, banyak amalan yang memiliki dimensi ganda, salah satunya adalah berqurban, seperti yang kita lakukan pada hari raya ‘Id Al-Adha. Ibadah puasa tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah swt semata, tetapi bagaimana menumbuhkan sikap kepedulian kita terhadap sesama.

Kepedulian terhadap orang lain yang memiliki nasib yang tidak seberuntung dengan saudaranya yang lain. Mereka hidup dalam kekurangan, keterbatasan dan kesulitan. Itu lah kenapa Allah SWT memberikan keringanan kepada orang yang tidak mampu berpuasa supaya menggantinya dengan memberi makan orang miskin (QS. Al-Baqarah [2]: 184)

Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari Sa’id bin al-Musayyab, ia berkata: Membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Berkenaan dengan orang tua yang sebelumnya biasa berpuasa lalu karena ketuaannya dia tidak mampu lagi berpuasa, dan wanita hamil yang tidak ada kewajiban puasa atasnya, maka bagi setiap orang dari kedua  golongan ini ada kewajiban memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang dilewatinya dalam bulan Ramadan.

Meskipun para ulama berbeda pendapat tentang fidyah, tetapi mereka sepakat dengan memberi makan orang miskin (fidyah) ini. Hanya saya yang menjadi perbedaan di antara fuqoha dalam ukuran fidyah itu sendiri yang harus diberikan kepada orang miskin.

Selain itu, kita dianjurkan untuk membayar zakat (bagi yang mampu). Zakat ditunaikan guna mensucikan jiwa dari sifat kikir, tamak, dan cinta kepada harta (hubb ad-dunya) serta membersihkan harta dari hak orang lain yang melekat pada harta seseorang. Bahkan zakat juga membersihkan hati dari rasa dengki terhadap orang yang berharta, dan zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka.

Dalam al-Qur’an perintah untuk mengeluarkan zakat diulang sebanyak 33 kali yang hampir seluruhnya disebut setelah perintah melakukan salat. Hal ini mengisyaratkan bahwa perintah mengeluarkan zakat sejajar dengan perintah shalat, sehingga diharapkan terwujudlah keseimbangan antara manusia dengan Allâh dan manusia dengan sesamanya. (hablun min an-nas wa hablun min allâh) (At-Taubah [09] : 103).

Adapun mereka yang berhak menerima zakat ada delapan golongan (At-Taubah [09] : 60). Itulah hikmah kenapa perintah sholat disandingkan dengan printah berzakat. Sebab menurut Ust. Toto Tasmara, dalam bukunya. Ketika sholat yang kita lakukan dalam bentuk ibadah ritual formal (gerakan takbir hingga salam) selesai, tetapi sejatinya "salat aktual" (dalam bentuk ibadah sosial) kita belum selesai. Justru dengan salat aktual inilah kita berlomba-lomba untuk mendapatkan “tiket” masuk supaya bertemu denganNya. (Al-Kahfi [18] : 110)

Penutup
Seperti sudah disampaikan di awal, bahwa puasa memiliki nilai ibadah yang berdimensi ganda, salat, zakat pun demikian. Dengan ibadah-ibadah seperti ini seharusnya seorang muslim mampu menjadikan dirinya lebih baik lagi. Keshalihan individual tidak berguna jika keshalihan sosial kita abaikan. Keduanya harus berjalan berdampingan, tidak boleh dibiarkan terpisah.

Selain diperintahakan untuk mentaati Allah SWT dan Rasulullah saw kita juga diperintahakan supaya berbuat baik. Sebagaimana Nabi Muhammad saw bersabda: khair an-nas ‘anfa’uhum li an-nas “sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain”. Itulah kenapa dua keshalihan itu sangat dianjurkan.

Alhamdulillah saat ini kita berada dibulan ramadan, yang mana bulan ini merupakan pendidikan bagi diri kita. Mendidik supaya memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Tak hanya itu, di bulan yang suci ini kita seolah ditunjukan bahwa siapa sesunguhnya diri kita yang sebenarnya. Seberapa besar kualitas ibadah, kepedulian, dan seberapa kuat istiqamah yang kita miliki. Allahu’alam.

Editor : Hamzah/
Sumber : http://kampus.okezone.com/read/2013/07/16/95/837638/puasa-amalan-berdimensi-ganda

Pacaran Itu Main-Main, Nikah Itu Tanda Serius

Cinta itu Fitrah
Jika berbicara tentang cinta, ini merupakan topik yang sangat menarik, terutama di kalangan remaja. Wajarlah jika laki-laki dan perempuan timbul rasa suka dan cinta. Dewasa ini kata “Cinta” memang tak lagi asing terdengar oleh kita disemua lapisan masyarakat, baik itu anak-anak, remaja apalagi, bahkan dewasa. Kata “cinta” yang diumbar-umbar hingga ke penjuru duniapun tahu.

Cinta adalah pemberian Allah swt atas karunia-Nya. Lha bila cinta adalah karunia Allah, mustahil bukan Allah mengaruniakan yang buruk? Allah menanamkan rasa cinta dalam hati kita sebagai bentuk dari pada Cinta-Nya kepada kita agar kita senantiasa mengingat-Nya, Yang Maha Cinta.

Cinta adalah fitrah dan indikasi kedewasaan. Bila anda pernah merasakan jatuh cinta, maka penulis ucapkan selamat karena tandanya anda masih normal dan baik-baik saja. Setiap manusia dikaruniakan cinta oleh-Nya. Jadi tiada salah bila seseorang merasakan cinta. Akan tetapi banyak cara yang salah mengekspresikan cinta, sehingga dia terperdaya dengan cintanya.

Allah memberikan rasa cinta antar lain jenis, sama seperti Allah jadikan rasa cinta manusia terhadap apapun yang dia inginkan di dunia ini; harta, kedudukan, jabatan dll. Akan tetapi cinta yang hakiki hanyalah cinta pada-Nya.

Celakanya remaja masa kini mengekspresikan cinta melalui hubungan tanpa ikatan yang sah populer di kalangan remaja dan dewasa dengan sebutan pacaran alias in Relationship yang kini populer di media sosial, facebook, twitter, dan semisalnya. Ini adalah salah satu tipu daya setan untuk menjerumuskan anak manusia. Budaya pacaran yang menjadi tren remaja masa kini diadopsi dari budaya barat yang menyimpang dari ajaran agama Islam.

Bagaimana tidak menyimpang? Wong belum ada ikatan yang sah sudah berani prgangan tangan, kemudian pelukan, kemudian ciuman, kemudian dan kemudian berakhir pada penyesalan dan derai tangis yang tak karuan. Budaya barat yang diadopsi tanpa filter membuat manusia kini semakin bobrok dan terjadi kekacauan dimana-mana. Norma-norma tak lagi dihiraukan. Hanya mementingkan kesenangan sesaat yang pada akhirnya datang penyesalan.

Allah memang mengaruniakan rasa cinta sebagai fitrah kepada manusia, namun bukan berarti kita lantas bebas mengekspresikan cinta sesuai dengan kehendak kita, bukan seperti yang kita inginkan. Ada masanya, ada caranya dan ada aturannya. Karena itulah, Islam diturunkan oleh Allah. Supaya kita tetap menjadi manusia, bukan hewan yang bebas berekspresi saat mereka jatuh cinta.(Siauw, Felix, 2013).

Lihat saja masyarakat barat yang umumnya lebih bebas mengekspresikan cinta. Alhasil, cinta yang semulanya sakral menjadi sesuatu yang tidak lagi sakral dan romantis lagi, kecuali tersisa dalam film-film saja. Islam memandang cinta itu agung dan suci, karenanya perlu diatur dan aturannya itu tidak tanggung-tanggung langsung dari Pencipta alam semesta Allah l.

What…??? Pacaran Islami?
Kata “Pacaran Islami” sering dengar bukan? Ini dalil yang benar-banar keliru. “What…? Pacaran islami?” jangan-jangan ntar ada “Maling Islami” yang kalau mau maling ucap salam dulu اَلسَّلَامُ عَلَيكُم  ana mau maling dulu ya’. Waaahh, bisa kacau nih dunia.

Tidak pernah ada dalam al-Quran, al-Sunnah, ijtihad yang menghalalkan pacaran apalagi ada embel-embel islaminya. Oalah… Hey bung, bukan pacaran namanya kalau ga pegangan tangan, kissing, atau segala perbuatan lain yang meninggikan syahwat. Tidak diragukan lagi bahwa pacaran adalah jalan bebas hambatan menuju zina dan ini sangat memprihatinkan.

Pacaran ya pacaran kaga usah ada embel-embel islaminya juga kali. Wajar saja jika terjadi zina. Allah l berfirman dalam surat al-Isra’ ayat 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra’[17]: 32)

Jelas sekali bukan larangan Allah l dalam surat al-Isra’ ayat 32 diatas? Mendekatinya saja tidak boleh apalagi melakukannya. Na’udzubillah. Tak adakah rasa takut pada Allah l? Takut akan adzab-Nya yang pedih? Tak malukah kita pada Yang Maha Pencipta?

Ingatlah, dunia ini hanyalah tempat persinggahan untuk menuju ke kehidupan yang abadi. Zina tidak hanya dalam konteks hubungan badan yang tidak halal,

Adapun macam-macam zina: 1) Zina al-lamam, meliputi zina ‘ain (zina mata) yaitu memandang lawan jenis dengan perasaan senang. Zina qalbi (zina hati) yaitu memikirkan atau mengkhayalkan lawan jenis dengan perasaan senang padanya. Zina lisan (zina ucapan) yaitu membincangkan lawan jenis denag perasaan senang padanya. Zina yadin (zina tangan) yaitu memegang tubuh lawan jenis dengan perasaan senang padanya.

Dan 2) Zina yang sebenarnya ada dua hal yaitu zina muhsan, yaitu zina yang dilakukan oleh orang yang telah bersuami istri, hukumannya adalah dirajam sampai mati. Dan zina ghairu muhsan, yaitu zina yang dilakukan oleh orang yang belum bersuami istri, hukumannya adalah didera sebanyak 100X dengan rotan

Wajar saja jika terjadi zina. Pertemuan yang rutin menghasilkan kesempatan-keempatan yang muncul secara acak atau kesempatan yang terencana. pasti akan selalu menyertai dua insan yang bukan mahram saat berdua-duaan dan pacaran memang enaknya cuma berdua, cocok. Ditambah lagi, budaya barat yang menjadi kiblat gaya hidup anak muda zaman sekarang. Raslullah ` bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita ,karena sesungguhnya setan menjadi yang ketiga diantara mereka berdua”

Karena Islam adalah agama yang preventatif. Allah l melarang keras untuk mendekati zina apalagi sampai melakukannya. Maka islam menutup semua jalan untuk menuju perzinaan. Selain zina merupakan dosa besar disisi Allah l. Perbuatan itu juga sangat merugikan bagi laki-laki maupun perempuan.

Tidak ada dalam kamus islam yang namanya pacaran atau semacamnya itu, melainkan ta’aruf dan pernikahan. Pernikahan inilah menjadi jembatan untuk menyatukan dua hati yang saling terpaut karena Allah l. Pernikahan juga sebagai bentuk kecintaan kepada Rabbnya. Jika Cinta yang dibangun atas dasar kecintaan yang tinggi pada Allah l maka tak perlulah khawatir akan perjalanan cinta dalam pernikahanmu. Allah l yang akan menuntun kepada cinta yang hakiki.

Pacaran Tanda Main-main, Nikah Tanda Serius
Pernikahan di dalam Islam adalah sebuah ikatan suci, ikatan yang akan menghalalkan yang haram dan menyatukan dua insan dan keluarga. Pernikahan adalah pintu kebaikan yang bertebaran pada jalan-Nya dan juga bagian dari keindahan yang Allah beri di dunia. Lelaki dan wanita yang sudah mampu dan siap membina rumah tangga, maka boleh bagi mereka menentukan calon yang mereka sukai karena Allah l pun telah membolehkannya. Sesuai dengan firman Allah l dalam surat al-Nisâ ayat 3: “Nikahlah oleh kalian wanita-wanita yang kalian senangi” . (QS al-Nisâ’ [4]: 3)

Untuk para laki-laki sejati: laki-laki terhormat takkan pertaruhkan kehormatan wanitanya karena dia melindunginya dengan pandangan atau mengambilnya dengan pernikahan. Laki-laki sejati bukan yang banyak janji tetapi yang berani datangi wali atau menahan diri dari perkataan yang tak  pasti. Perlu muslimah sadari, laki-laki sejati tak pernah ajak pacaran karena enak sebatas masa dunia tak kaburkan yang Allah l janjikan dan karena keluarga sakinah yang mereka idamkan.

Jadi, berbanggalah para ikhwan dan akhwat yang jomblowan jomblowati. Karena anda semua adalah manusia langka perindu surga yang insya Allah selalu dalam naungan cinta-Nya. Perbaiki diri agar suatu saat nanti mendapat yang baik pula sesuai denga janji Allah l: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rizqi yang mulia (surga)”

Aturan Islam sangat sederhana. Bila cinta, datangi walinya dan menikahlah! Bila belum siap, persiapkan diri dulu dalam diam. Itulah tanda laki-laki sejati perindu surga. Islam tidak mengenal hubungan-hubungan pra-pernikahan semisal pacaran dan pertunangan. Faktanya, hubungan ini bukannya mengenalkan dua insan, malah merusak kedua insan.

Bila memang serius untuk menjalin hubungan jangka panjang atau komitmen, mengapa tidak menuju ke jenjang pernikahan? Bila memang cinta dan sayang mengapa akad tidak disegerakan? Bila masih punya alasan, artinya anda belum siap. Sederhana saja. Kalau belum siap, seharusnya tahu batas kemampuan diri dan jangan memulai apa yang tak bisa kau selesaikan.

Nikahi / Sudahi, Halalkan / Tinggalkan!
Jika engkau sudah mantab ingin menikah, maka datangi kedua orang tuanya atau walinya kenali lebih dalam dengan batasan yang telah ditetapkan syari’at. Kemudian jika hatimu telah mantap maka khitbahlah lalu menikahlah dengannya. Sesungguhnya menikah adalah sunnah Rasul dan sebagai penyempurna ibadahmu. Say No to Pacaran. Say Yes to Nikah… Deal?  Oke Deal. Nikah=Pahala. Pacaran=Dosa. Pilih mana? It’s your choice.[]

Sumber : http://alrasikh.uii.ac.id

Alhamdulilah; Kita Sudah Mengawalinya

Kata mengawali berasal dari kata awal, yang memiliki imbuhan me dan akhiran i. Kata awal itu biasanya diartikan sebagai sesuatu yang pertama, karena kata awal itu berasal dari bahasa arab yang sudah diserap menjadi bahasa indonesia. Sedangkan dalam KBBI (kamus besar bahasa indonesia) kata awal diartikan sebagai mula-mula, permulaan, atau jauh-jauh hari sebelum ditentukan.

Adapun seseorang yang mengawali bisanya disebut Pioneer, Pencetus, Penggagas, atau Founder. Dari nama-nama tersebut itu hanyalah sebuah ungkapan bagi mereka yang mampu mengawali dalam sebuah tindakan yang akhirnya bisa dikenal oleh orang banyak. Nama tersebut lahir untuk sebuah apresiasi yang diberikan bagi siapa yang telah memulai sesuatu yang baru.

Mungkin kita sering mendengar kata-kata bijak : "Menjadi sesuatu itu mudah... tetapi untuk mengawalinya itu sangat sulit sekali..." Misalkan saja kita ingin menjadi pedagang, tetapi tidak pernah sama sekali memulainya, tentu selamanya keinginan itu hanya ada dalam khayalan. Untuk itu memulai itu sangat sulit.

Tetapi, kami sudah membuktikan bahwa mulai tanggal 12 Februari 2014 kami sudah memulai sesuatu yang besar dan kami yakin akan bertambah menjadi besar. Sesuatu yang sederhana, tetapi memiliki sebuah harapan besar dan manfaat yang tak terbatas bagi kelangsungan masa depan generasi bangsa.

Mari bergabung di sini, di Forum Pemuda Penggerak Desa. Forum ini kami bangun untuk memajukan desa melalui pendidikan non formal, guna membuka wawasan masyarakat (anak-anak, remaja, dan orang tua) terhadap kemajuan dan persaingan dunia saat ini. Tentunya tidak melupakan kewajiban mereka sebagai orang yang bertaqwa; rajin sholat, ngaji, dan mendalami ilmu-ilmu agama.

Memulai di Kampung Mayat desa Panunggulan Kec. Tunjung Teja, Serang - Banten, merupakan modal yang luar biasa untuk menjadi lebih baik lagi ke depannya. Tak hanya itu, di Kampung Kedokan juga menjadi tambahan pengalaman yang kedua, sedangkan Cigodeg yang ketiga dan yang keempat, baru saja kami lakukan di Kampung Pabuaran kemarin. []

Mempersiapkan Generasi Baru


Anak merupakan aset yang paling berharga dalam keluarga. Sebuah keluarga tidak lengkap bila tidak ada yang namanya buah hati (anak). Rasanya sunyi, sepi, dan entahlah apa namanya karena saya belum menikah dan berkeluarga. Yang jelas terasa ada yang kurang dengan hidup ini, meski semuanya serba cukup tetapi apalah gunanya jika tidak memiliki aset berharga yang satu ini.

Seorang anak merupakan penerus keturunan sebuah keluarga, dan ini berjalan tak pernah berhenti hingga seterusnya. Terus bertambah dan bertambah hingga menjadi sekelompok orang, dari satu daerah ke daerah lain, berupalu-pulau, bersuku-suku dan akhirnya berbangsa-bangsa. Hal ini disebabkan karena manusia terus berkembang biak.

Dalam agama Islam, anak merupakan sebuah amanat yang diberikan oleh Allah swt kepada orangtua (ibu dan bapak). Kelak amanat itu akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah dihari kiamat. Untuk itu mengajarkan agama dan membimbing anak ke jalan yang benar merupakan tugas dari orangtua. Dan begitu seterusnya, karena yang saat ini menjadi anak, kelak akan menjadi orangtua.

Dalam sebuah kisah, diceritakan ada orangtua yang ibadahnya baik, sholatnya tepat waktu, sedekah, suka menolong dan lain sebagainya. Ketika di akhirat, orangtua tersebut divonis masuk surga. Tetapi sebelum masuk syurga ada seorang pemuda yang meminta keadilan. Pemuda itu ternyata putra dari orangtua tersebut. Pemuda itu berkata "mereka memang ahli ibadah, suka menolong, sedekah dan lainnya, tetapi mereka tidak pernah mengajarkan saya shalat, puasa, dan membiarkan saya mabuk-mabukan, maksiat dsb".

Jika saya masuk neraka, maka mereka juga harus bertanggungjawab. Akhirnya orangtua tersebutpun masuk neraka bersama anaknya. Cerita ini menggambarkan dan mengajarkan kepada kita bahwa mendidik dan mengajarkan anak merupakan kewajiban orangtua. Sebab bagimanapun semuanya adalah amanat dariNya.

Al-Qur’an mengatakan bahwa anak/keturunan dan harta adala fitnah "Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (Al-Anfal: 28). Maksunya ialah dalam konteks harta dan anak seperti yang dikemukakan oleh Asy-Syaukani adalah bahwa keduanya dapat menjadi sebab seseorang terjerumus dalam banyak dosa dan kemaksiatan, demikian juga dapat menjadi sebab mendapatkan pahala yang besar.

Fitnah di sini juga berarti bisa menyibukkan atau memalingkan seseorang dan menjadi penghalang baginya dari mengingat dan mengerjakan amal kepada Allah swt, seperti yang digambarkan oleh Allah tentang orang-orang munafik, sehingga Dia menghindarkan orang-orang beriman dari kecenderungan ini. Inilah yang dimaksud dengan ujian yang Allah swt uji pada harta dan anak bagi manusia.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SWA juga menyebut keduanya sebagai pembuat pengecut dan kekikiran bagi manusia. Sebagaimana dalam hadits Aisyah ra ketika beliau memeluk seorang bayi, ”Sungguh mereka (anak-anak) dapat menjadikan seseorang kikir dan pengecut, dan mereka juga adalah termasuk dari haruman Allah SWT".

Empat Metode
Oleh karenanya, mari lah kita mempersiapkan generasi (anak) yang berkualitas serta memiliki pengetahuan dan kefahaman yang baik dalam agama. Adapun cara yang dapat dilakukan antara lain : a) Mengajarkan konsep Luqman. b) Mengajarkan keteladanan. c) Mengajarkan kejujuran dan d) Belajar keikhlasan.

Empat hal inilah yang hilang dari generasi anak masa depan. Kalau kita berkaca kepada kisah Lukman, bagaimana ia mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana mengenal tuhan dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Dalam segala hal, yakinilah bahwa Allah membersamai langkah dan tindakan yang kita lakukan.

Miskin keteladanan, ya kata itu sangat tepat untuk diungkapkan. Pasalnya tak ada lagi yang dapat dijadikan sebagai seorang uswah (teladan) yang hidup, bagi generasi saat ini. Semuanya memiliki "track record" yang buruk. Hanya Rasulullahlah satu-satunya orang yang dapat dijadikan uswah, karena tindak dan tanduk beliau bagitu indah.

Kedua, yang patut dijadikan teladan adalah orangtua kita sendiri. Tetapi kebanyakan orangtua tidak mampu menjadi sosok yang dapat dijadikan sebagai uswah oleh anaknya. Berarti di sini lah tantangannya bagi para calon orangtua, bagaimana mempersiapkan diri untuk menjadi contoh yang baik dan panutan bagi anak-anaknya kelak. Yuk kita siapkan sedini mungkin, bagaimana sudah siapkah Anda?

Kejujuran merupakan harga mati, dan hanya segelintir orang saja yang mampu melakukannya. Begitu banyak orang yang mampu melakukan kesalahan, tetapi hanya sedikit saja yang mau mengakui kesalahannya. Jujur terhadap diri sendiri, terhadap orang lain dan yang terpenting adalah jujur terhadap Allah SWT. Berapa banyak yang dapat melakukannya??

Hidup merupakan perjalanan sementara, dan sebagai alat perantara untuk mencapai ke sebuah titik yang disebut dengan akhirat. Semua yang dilakukan, amalan ibadah dan lain-lain bermuara pada satu kata, yaitu kata ikhlas. Semua perbuatan yang tanpa didasari dengan keikhlasan semuanya hampa, kosong dan tak akan memiliki nilai. Itulah sebabnya allah melarang manusia untuk menjauhi sikap riya (syirik kecil).

Terlebih ketika apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan maka ikhlaslah yang tepat untuk diungkapkan. Sedikit ataupun banyak, besar dan kecil semuanya harus diikhlaskan. Sebab manusia tidak akan pernah tahu rencana yang Allah persiapkan untuk dirinya. Apapun itu, pada dasarnya baik bagi diri kita. Yang terpenting, ketika ditimpa musibah bersabar dan ketika mendapat nikmat bersyukur. Lebih dahsyat lagi ketika mendapatkan musiabah ia tetap mengucapkan syukur. Allahu’alam.

____________
* tulsian ini diterbitkan oleh okezone.com di kolom Opini (KLIK DISINI)
Tulisan ini sebagai refleksi Hari Anak Nasional yang diperingati Tgl. 23 Juli di blog pribadi